DONGENG SEBELUM TIDUR

Dahulu kala, hiduplah seorang puteri cantik dan cerdas di sebuah negeri Takada. Dia memerintah negerinya dengan bijak. Rakyatnya begitu mencintainya, mereka hidup makmur di bawah kepemimpinan sang putri cantik.  Kecantikan dan kecerdasannya terkenal ke seluruh pelosok negeri. Burung-burung yang melintas di depannya kerab terantuk pohon atau dinding karena terpesona dengan paras ayu sang putri.

Suatu hari, putri cantik memungut seekor burung Gereja yang berdarah karena terantuk dinding. Dengan penuh kasih dia mengobati burung itu sambil mendendangkan lagu cinta.

“Oh kekasih, pulanglah sebelum senja diporak-porandakan malam

bawakan aku segelas madu yang tak kan habis

oleh tumpahan bintang,

nyalakan selalu pagi untukku

agar burung Gereja cantik ini tak bosan bernyanyi untukku.”

Dari lirik lagu yang dinyanyikan sang putri, si burung gereja menebak kalau sang putri tangah jatuh cinta. Dia pun berhayal..andai saja ia bisa menjelma menjadi pangeran tampan, ia berjanji akan melimpahkan kebahagiaan bagi sang putri cantik. Mencintainya utuh selama hidupnya. Tapi kemudian air matanya menetes.

Sang putri begitu cantik, cerdas, dan bijaksana. Dia begitu dicintai rakyatnya.. apa mungkin ia akan jatuh cinta pada jelmaan seekor burung Gereja? Burung Garudalah yang lebih layak. Pikirnya setengah putus asa.

Putri itu menyadari derai air mata si burung yang menetes di tangan lembutnya.

“Wahai burung yang cantik, apa gerangan yang membuatmu menangis? Terlalu kuatkah aku mengikatkan kain kasa di sayapmu?” tanyanya khawatir.

Burung mungil yang tampak tak berdaya itu menghela nafas.

“Tidak, Yang mulia. Hamba hanya berdoa agar tuan puteri segera bertemu sang kekasih. Yang mampu membawakan segelas madu yang tak kan habis oleh tumpahan bintang.”

Ucapnya kelu.

“Hahaha..kau ada-ada saja, burung Cantik…sekarang yang terpenting adalah membuatmu terbang lagi. Kembali ke kumpulanmu. Tapi terima kasih akan doamu.” Tawanya yang renyah di awal  kalimat menghilang di kalimat kedua. Ada segurat duka di mata indahnya.

“Maafkan hamba yang yang mulia. Maafkan jika perkataan hamba membuat Yang mulia bersedih..” burung Gereja itu merasa bersalah.

“Taukah kau, duhai bururng Cantik? Negeri Takada ini milikku dan rakyatku. Juga milikmu dan semua yang hidup di tanah Takada… Ah..lupakan saja..aku tak boleh mengeluh.. bukankah memang tak ada hidup yang sempurna. Sekarang istirahatlah…” putri itu berlalu setelah menempatkan burung Gereja itu dalam keranjang empuk.

Begitu lah mereka bertemu. Setelah hari itu, si burung Gereja yang terluka dan retak sayapnya mengendap-endap pulang di malam itu. Tertatih ia berlari ke kuil di samping istana. Siang dan malam ia berdoa agar berubah wujud menjadi pangeran tampan di atas Pegasus yang mampu membuat sang putri bangga dan dicintanya. Utuh, selamanya. Di malam ke 101, keajaiban itu datang…

Tiba-tiba burung Gereja itu menjelma menjadi Pangeran tampan yang dimimpikannya, seekor pegasus gagah menunggunya di luar kuil. Segera ia mamacu Pegasus putih bersih itu ke istana untuk melamar pujaan hati dengan luapan kebahagiaan dan syukur.

Setelah menunggi beberapa lama dengan perasaan gundah, akhirnya putri cantik itu keluar menemuinya.

Pangeran tampan tertegun sesaat, sama ketika ia melihatnya pertama kali. Ketika sayapnya patah, berdarah, pagi itu.

“Ada apa Anda ingin bertemu?” tanyanya datar menggigilkan hati sang pangeran tampan itu.

“Hamba ingin mengarungi hidup bersama, Paduka.” Jawabnya gemetar dan mulai tertunduk.

“Maksudmu?” puri itu menyingkap cadar tipis yang menggelantung di depan wajahnya. Tampaklah tanda lahir yang memaruh wajahnya jadi merah dan putih. Putri itu tak secantik cerita, putri itu tak secantik mimpinya, putri itu tak seperti saat itu… ketika sayapnya patah.

“Mengapa, terdiam Pangeran? Apa Pangeran keliru dengan ucapan, Pangeran?” Putri ta secantik ceritanya itu menurunkan kembali cadarnya dan duduk di singgasananya dengan penuh percaya diri.

“Tidak, Yang Mulia, Hamaba ingin menua bersama Paduka.” Kini pangeran itu tak kalah percaya diri dengan kata-katanya. Seisi ruangan menatap tak percaya. Mana mungkin Pangeran setampan dia mau menikahi putri tak cantik lagi? Pikir mereka mengiba.

“Tidak ada yang salah dengan kata-kata hamba. Hamba yakin dengan kata hati hamba.”

“Tapi aku tak secantik putri dalam cerita, kau mungkin akan menyesal nantinya. Jadi pulanglah. Lupakan keinginanmu.”

“Apakah Yang mulia menolak, Hamba?” dia mendekat.

“Tidak demikian, Pangeran. Aku hanya ingin kau tanyakan hatimu lagi. Aku ingin kau tak menyesal di kemudian hari. Kau begitu tampan, tentu kau layak mendapatkan yang lebih cantik dariku.”

“Jika bukan karena Yang Mulia menolak hamba, tidak ada alasan bagi Hamba untuk pulang dengan sayap patah. Pada Yang Mulia hamba ingin pulang, menjadikan Yang mulia sebagai rumah dalam kehidupan hamba…”

“Tapi aku tak cantik, dan kau layak mendapatkan yang seanggun dirimu, duhai Pangeran tampan.”

“Apalah arti sebuah kecantikan badani, Yang Mulia. Semua manusia adalah cantik, semua juga akan menua dan melewati masa-masa kecantikan itu kemudian mati. Hingga nantinya hanya akan jadi kerangka dalam kubur.  Tak ada yang sempurna dalam hidup ini, Yang mulia. Di mata hamba, kecantikan hati Yang Mulia jauh melebihi kata cantik yang pernah hamba tahu.”

Seminggu kemudian, negeri Takada berpesta untuk pernikahan sang Putri dan Pangeran tampan. Wajah sang putri pun kembali cantik setelah segurun burung Gereja berdoa untuknya. Seluruh rakyat berbahagia karena putri yang mereka cintai menikah dengan pangeran pujaan semua putri di seluruh dunia, pangeran tampan yang punya Pegasus yang setia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: