menyeka peluh di pelataran jiwa

Sama dengan sore-sore sebelumnya, sore ini selepas pulang sekolah aku kembali memacu Jupiter MX kesayanganku menuju city walk Slamet Riyadi. Menuju kedai mie ayam di depan sebuah bank swasta bercat biru putih. Mie ayamnya memang lezat bukan buatan. Ada yang hilang jika sehari saja tak menyantapnya. Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang aku cari. Lebih dari itu aku sedang meyusun puzzle-puzzle cinta yang terserak. Terserak akibat Papa dan Mama yang semakin hari semakin tidak mempedulikanku, anak semata wayangnya. Pekerjaan bagi mereka lebih indah untuk dicintai daripada aku. Papa mencintai perusahaan batik berskala internasionalnya, sedang Mama menyayangi butik-butiknya yang tersebar di lima kota besar di pulau Jawa.

Namun Tuhan tak pernah menutup mata. Saat salah satu pintu cinta tertutup, maka akan dibukakan pintu cinta yang lain. Sebab Tuhan sangat tahu bahwa makhluk Nya yang bernama manusia ini tak kan bisa hidup tanpa cinta. Tak lekang dari ingatanku ketika beberapa minggu silam keluarga Pak Marino yang penjual mie ayam itu ‘membuka’ pintu cinta untukku. Hari itu aku sedang suntuk luar biasa. Hari Rabu memang bukan hariku, karena ada satu pelajaran yang membuatku meriang meski baru disebut namanya, matematika! Nilai ulangan harianku mendapat angka tiga, nilai terendah. Lari keliling halaman sekolah lima kali adalah hukuman yang sudah barang pasti diberikan oleh Pak Badrun bagi pemilik nilai terendah. Aku dongkol bukan kepalang, sekaligus tak habis pikir mengapa di zaman seperti ini hukuman fisik masih saja diberikan. Huh!

Pulang sekolah, dengan kecepatan 70 km/jam kupacu motorku menyisir padatnya Slamet Riyadi. Aku kesetanan. Ini pelampiasan. Sebelum perempatan Solo Grand Mall, aku menikung ke kanan. Kuhempaskan badan di kursi taman city walk depan sebuah perusahaan asuransi. Ada seorang bapak yang sedang merokok di depanku. Aku acuh. Segera saja aku mengambil kertas gambar dan spidol snowman hitam. Aku percaya menggambar bisa menghapus suntuk. Hobi menggambar memang sudah kugeluti sejak SD.

Kali ini aku menggambar jajaran pohon asam jawa di tamancity walk. Rimbun daunnya yang teduh telah memaksaku untuk memindahkannya dalam kertas gambar. Kupandangi lekat-lekat gambarku yang hampir jadi. Alamak… gambar macam apa ini!? Buruk nian! Tak puas dengan gambarku, kubanting kertas gambar, kuacak-acak rambut. Biar saja orang menganggapku gila, karena memang aku sudah sakit jiwa. Aku jadi teringat pesan kakak sepupuku yang dulu mengajariku teknik-teknik menggambar. Menggambar bukan sekedar urusan kemahiran meliukkan pensil tapi lebih dari itu adalah bagaimana kita membahasakan damainya hati kita. Terbukti!

Melihat ulahku, bapak yang merokok di depanku tadi terheran-heran, lalu terkekeh. Bapak yang kulitnya sedikit gelap itu mengenakan kaos putih kumal hadiah sebuah produk penyedap rasa. Tampaknya dia adalah penjual mie ayam yang sedang beristirahat. Kulihat ada kedai mie ayam lima meter dari sini yang nihil penghujung.

“Mas, kalau ada masalah jangan main banting gitu, ndak ada gunanya,” nasihatnya. Aku tersenyum kecut. Tak kutanggapi. Malas.

“Lagi ada masalah di sekolah ya? Masalah dengan guru?” tanyanya bak seorang peramal. Dia seolah bisa membaca pikiranku. Aku terpancing.

“Iya Pak, nilai ulangan matematikaku dapat tiga, nilai terendah, dihukum keliling lapangan lima kali deh,” jujurku sembari menggaruk-garuk kepala tak gatal.

“Hahaha, masih ada tho hukuman fisik zaman sekarang ini? Aku kira cuma ada di zamanku saja. Hukuman fisik itu sebenarnya bukan malah membuat anak jera tapi justru membuatnya semakin menjadi-jadi. Mendapat nilai terendah juga tak seharusnya dihukum seperti itu. Bukan berarti aku menyalahkan gurumu, kamu wajar dihukum karena mungkin malas belajar, tapi bukan seperti itu hukumannya,” terangnya dengan mimik muka serius. Aku terperangah. Penjual mie ayam ini berbobot juga kata-katanya.

“Jangan heran Mas, jelek-jelek begini sebelum jualan mie ayam saya pernah jadi guru SD!” Bapak ini semakin mengejutkanku. Bukan hanya karena seolah bisa membaca pikiranku, tapi juga karena ternyata beliau adalah mantan guru SD.

“O…mantan guru ya, Pak. Tapi memang saya ini tidak pernah jatuh cinta dengan matematika, Pak. Ibarat cewek dan cowok, kalau mereka tidak saling mencintai, apa mungkin bisa disatukan? Tidak mungkin tho? Pendidikan di Indonesia ini memang memaksa! Memaksa muridnya berseragam, mengikuti pelajaran yang tidak dia sukai dan paksaan-paksaan lain yang memberatkan,” gerutuku beretorika. Sok mantap. Benar-benar berbalut emosi. Tidak berlandasan sama sekali.

“Sudah-sudah, ndak usah nggrundel seperti itu! Dibuat santai saja Mas, emosi itu ndak pernah menyelesaikan masalah. Sekarang mendingan makan mie ayam dulu saja,” ajaknya halus seraya tersenyum lebar. Ujung-ujungnya promosi juga bapak ini, batinku. Namun tak mengapa, aku memang juga sedang lapar.

“Mie ayam? Boleh, kebetulan tadi siang saya juga belum makan,” jawabku.

Kami berjalan beriringan menuju kedai mie ayam bergerobak kuning dan berpayung merah putih itu. Gerobak dan payung para pedagang di city walk memang diseragamkan oleh Pemkot. Sementara itu, emosiku sudah agak mereda. Bapak penjual mie ayam ini sedikit banyak telah mendinginkan darahku yang mendidih.

Monggo pinarak Mas, ngersakaken unjukan nopo?” wanita berkerudung hitam yang sepertinya istri si bapak, menyambutku ramah sekali. Khas wong Solo.

Es teh mawon, Bu,” dengan bahasa Jawa yang sedikitmedhok aku menjawab pertanyaannya. Maklum, di rumah selalu pakai bahasa Indonesia. Di sisi lain, bapak tadi sibuk meracik bumbu dalam mangkuk. Kemudian meniriskan mie. Siap menyajikan.

“Oya sampai lupa, Mas namanya siapa ya?” tanyanya ketika meletakkan semangkuk mie ayam di mejaku.

“Saya Adit, Aditya Purnama Putra.”

“Wah bagus ya namanya, kalau saya Marino, nah yang ini istri saya, namanya Sri,” Pak Marino dengan bangga memperkenalkan istrinya yang mendekat membawa es teh pesananku. Bu Sri malu jadinya. Tersipu-sipu pipinya memerah.

Halah bapak  ini ada-ada saja thondadak dikenalke barang,” sergahnya. Masih sambil tersipu. Pak Marino mesam-mesem.

Tiba-tiba seorang anak kecil usia kelas satu SD tergopoh-gopoh menemui Bu Sri. Dekil wajahnya, keriting jagung rambutnya, tapi matanya berbinar tajam. Sekilas dia mirip dengan Pak Marino. Mungkin dia anaknya, pikirku.

Buk, nyuwun artha, kagem tumbas lotis,” pintanya pada Bu Sri. Bu Sri lantas memberinya uang seribuan. Benar, dia anak Pak Marino. Alangkah sopan sekali tutur kata anak ini. Walau hanya penjual mie ayam, orang tuanya  memperhatikan betul penanaman tata krama.

“Kalau yang ini anak saya satu-satunya, Mas Adit. Namanya Eko, baru kelas dua SD. Setiap pulang sekolah dia pasti kesini. Karena selain rumah kami suwung, Eko sekaligus bisa bantu-bantu bapak ibunya,” ujar Pak Marino. Eko mengulurkan tangan hendak menyalamiku. Aku menyambutnya. Pemberani juga anak ini. Kulanjutkan menyantap mie ayam yang tinggal sedikit. Tapi Eko tiba-tiba menghentikan langkah.

“Emm…gambar yang di meja itu punya Mas?” tanyanya sambil melihat gambarku yang aku geletakkan di atas meja begitu saja. Raut mukanya penasaran, sedikit kagum tepatnya. Aku setengah tak percaya.

“Iya, ada apa?” aku menjawab setelah menghabiskan mie ayamku.

“Bagus, Mas. Mirip aslinya!” Kali ini aku yang tersipu malu. Papa dan Mama saja belum pernah memuji seperti itu. Padahal karya-karyaku sudah kubingkai rapi dan memenuhi dinding kamar. Sedang Eko dengan polosnya berkata demikian. Sebuah apresiasi jujur dan apa adanya.

“Masak bagus? Tadi sempat mau aku buang lho.”

“Wah, eman-eman Mas kalau dibuang, goresannya Mas Adit itu sudah halus, tinggal dirapikan,” komentar Pak Marino. Beliau lantas duduk disampingku.

“Mas, mbok aku diajari nggambar,” pinta Eko dengan penuh semangat. Dia urung membeli lotis. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Bisa. Nah, perhatikan ini ya!” Kertas gambar dan spidol sudah ditanganku. Aku tak kalah semangat. Cara-cara dasar menggambar yang dulu diajarkan kakak sepupuku aku tularkan ke Eko. Bu Sri yang sedari tadi duduk di kursi dekat meja es teh kini mendekat. Ikut memperhatikanku. Pak Marino tak ketinggalan. Antusias sekali mereka.

Sungguh, aku bagai seorang panelis dalam sebuah seminar sore itu. Sedang Pak Marino, Bu Sri dan Eko adalah audience yang setia mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan. Dan haruku pun memuncak. Suasana seperti inilah yang telah lama aku rindukan. Berkumpul bersama, penuh kekeluargaan. Momen seperti ini di keluargaku mungkin hanya bisa didapati saat lebaran. Itu saja hanya di hari pertama dan kedua.

Demikianlah keluarga Pak Marino telah membukakan pintu cinta untukku. Sampai sekarang, sudah tak terhitung berapa sore yang aku habiskan bersama mereka. Beberapa kedamaian telah aku reguk lewat kepolosan dan keriangan Eko, Bu Sri yang ramah serta Pak Marino yang begitu kebapakan. Tak jarang aku menyampaikan keluh kesahku pada mereka. Dan Pak Marino atau Bu Sri sering memberikan solusi jitu. Jadi tak berlebihan kiranya jika aku menganggap mereka sebagai keluarga kedua dalam hidupku.

Di kedai Pak Marino aku juga bisa mendapatkan inspirasi yang tak pernah habis untuk gambar-gambarku. Keluarga Pak Marino dan city walk adalah objek gambar yang memiliki perpaduan keindahan antara klasik dan modern. Pelukis mana pun pasti akan menghasilkan beratus-ratus karya jika menggali inspirasi darinya.

Tak hanya mencari inspirasi. Beberapa kali aku juga turut membantu mereka. Meski hanya sekedar membuat es teh. Awalnya Bu Sri melarangku, terlebih setelah tahu bahwa aku anak seorang direktur perusahaan batik terkemuka di Solo. Namun setelah aku meyakinkannya, beliau luluh juga akhirnya. Membuat es teh kini menjadi pekerjaan biasa bagiku. Kelak aku juga ingin belajar meracik mie ayam dari Pak Marino. Karena aku memang bukan pangeran agung yang merasa jijik dengan orang-orang pinggiran macam Pak Marino ini. Aku sama dengan mereka di mata Tuhan.

Sore ini adalah sore di bulan April yang panas. City walk sepi. Tak banyak orang berlalu lalang. Ruang publik yang terinspirasiOrchard Road di Singapura itu memang telah memenjaraku dalam eksotisme. Jajaran pohon asam Jawa yang tinggi menjulang tak ubahnya pagar alam yang membentengi bangunan-bangunan di sisi selatan Slamet Riyadi. Selalu menghadirkan keteduhan yang syahdu, yang membuat siapa saja betah berlama-lama di bawahnya. Nuansa klasikkota Solo yang mengklaim dirinya sebagai The Spirit of Java juga coba disentuhkan pada bangku-bangku taman serta gerobak-gerobak kuliner yang dibuat seragam. Sungguh, keanggunan Solo membentang sepanjang 7 kilometer dari Stasiun Purwosari sampai Gladag.

Aku tersenyum puas melihat karya-karyaku dipajang di gerobak mie ayam Pak Marino. Beberapa hari yang lalu Pak Marino memintaku memasang karya-karya terbaikku di gerobaknya. Aku tentu tak keberatan. Daripada aku simpan dalam kamar dan tak ada yang mengapresiasi, lebih baik aku bawa saja ke sini. Simbiosis mutualisme, demikian aku menyebutnya. Aku untung karena bisa mengadakan ‘pameran gratis’ sedang dengan adanya pajangan itu kedai Pak Marino memiliki daya tarik tersendiri.

Seperti sore-sore yang lain, sore ini lagi-lagi Eko asyik bermain bola. Dia memang menggemari permainan yang satu ini. Biasanya kami bermain bersama. Karena hanya dua orang, kami biasa bermain adu penalti. Bergantian, salah satu ada yang menjadikeeper dan satunya lagi menedang. Atau kalau city walk sedang ramai kami hanya melakukan passing-passing ringan. Eko tadi sebenarnya mengajakku bermain. Tapi aku sudah sangat lelah. Dengan halus aku menolaknya.. Namun diam-diam aku mengabadikan kelincahan Eko dalam menggiring bola dalam kertas gambarku..

Eko adalah anak tunggal, sama sepertiku. Secara pemenuhan materi dia memang tak lebih baik dariku, tapi aku kalah jauh darinya soal perhatian yang diberikan orang tuanya. Pak Marino dan Bu Sri menyekolahkannya di SD favorit di kota ini. Meskipun biaya pendidikan di SD itu sangat mahal, tapi bagi mereka pendidikan tak boleh di nomor duakan. Sebab ilmu lebih berharga dari emas permata, itu prinsip mereka. Anak kelas dua SD ini juga tak sungkan menanyaiku sudahkah aku sholat ashar setiap kali aku mengunjunginya. Dan dia akan mengajakku ke masjid jika aku belum sholat.

Gambarku hampir jadi. Kulihat Pak Marino dan Bu Sri juga sudah bersiap untuk menutup kedainya karena sudah pukul lima. Aturan dari Pemkot, semua kedai harus tutup pukul lima sore. Sekali lagi kupandangi gambarku. Bagus, gumamku. Natural sekali. Seorang anak kecil yang sedang bermain sepak bola sendirian di city walk.

“Mas Adit, tendang bolanya kesini!” teriak Eko melihat bolanya menggelinding ke arahku. Karena masih sibuk memberikanfinishing touch untuk gambarku, aku menendangnya asal-asalan. Agak keras tendanganku. Naasnya bola itu justru lari ke arah jalanan Slamet Riyadi yang ramai oleh kendaraan. Dan Eko mengejarnya! Aku was-was. Setengah berlari aku menyusulnya. Namun…

Ciiiiit…! Bruk!

Sedan BMW warna hitam menabraknya. Eko tersungkur. Darah berkesimbah.

“Eko!!!” Bu Sri berteriak histeris. Suaranya parau. Pak Marino secepat kilat menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri anaknya yang terbaring di tengah jalan. Wajahnya kalut dan berkabut. Aku terpaku, mataku terbelalak, mulutkku menganga lebar. Semua kejadian tadi seolah diputar ulang dalam slow motionyang semakin menyayat hati. Aku tak bisa memperpercayai semua ini

Bola plastik itu aku yang membelikan! Kemarin, bola plastik Eko bocor, tidak bisa dipakai lagi. Dan, aku juga lah yang telah menendangnya sembarangan sehingga meluncur ke tengah jalan, yang membuat Eko mengejarnya. Oh Tuhan, inikah balasanku kepada orang-orang yang telah menjauhkanku dari sepi? Akankah pintu cinta itu kembali tertutup? Betapa terkutuknya aku ini!

Orang-orang berkerumun. Sedan BMW hitam itu menghentikan laju. Polisi berdatangan dari pos mereka yang tak jauh dari TKP. Tapi, tunggu dulu, sepertinya BMW hitam itu tak asing lagi bagiku. Pelan pintunya terbuka, pengendaranya keluar dengan wajah yang pias. Astagfirullah! Aku memekik dalam hati melihat siapa yang baru saja keluar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: